Absensi Jasmine -

Di akhir semester, buku absensi biru tua itu sudah diganti dengan yang baru. Tapi halaman terakhir buku lama, yang berisi nama Jasmine sepanjang dua bulan terakhir, masih disimpan Bu Ratna di laci mejanya. Di samping setiap tanggal, ada titik-titik kecil yang baginya berarti:

Hari Selasa, Jasmine hadir. Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab. Ia tersenyum tipis saat Bu Ratna menyebut namanya. “Hadir, Bu,” katanya lirih. absensi jasmine

Dan setiap kali ada kertas bertuliskan atau “takut kehilangan” dengan tulisan miring khas Jasmine, Bu Ratna akan mengangguk kecil, lalu di buku absensi, di samping nama Jasmine, ia menuliskan bukan hanya “H” atau “I” atau “S”, tapi sebuah titik kecil—tanda bahwa ia melihat, ia memahami, dan ia hadir untuk Jasmine, lebih dari sekadar angka kehadiran. Di akhir semester, buku absensi biru tua itu

Setiap pagi, pukul 06.45, Bu Ratna, guru wali kelas XII IPA 1, selalu memegang buku absensi biru tua. Buku itu sudah lusuh di sudut-sudutnya, tetapi masih setia mencatat kehadiran tiga puluh dua siswa. Namun, selama sebulan terakhir, ada satu nama yang selalu menyisakan tanda tanya: . Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab